Surat Untuk Yang Tersakiti

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.
Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.

Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku? Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.
Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita: “Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel. Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku ku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas.

Dan aku pun tersenyum mendengar kisahmu. Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?
Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!

Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu. Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.

Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?

Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.

Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari bidadari.

Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat bidadariku.

Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?

Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.

Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.

Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?

Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.
Aku minta maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Source: Dudung [dot] Net

Komentar bertahan »

Kalahkan Rasa Malas

Atasi Malas

Atasi Malas

Banyak dalil baik didalam Al Qur’an maupun As Sunnah yang memerintahkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa beramal dan tidak berhenti darinya hingga bertemu dengan Allah swt. Amal sholeh baik yang terkait langsung dengan akherat seperti sholat, puasa, jihad maupun yang terkait dengan dunia seperti mencari nafkah, bergaul dengan masyarakat adalah bekal yang paling berharga untuk kebaikannya di dunia maupun akherat. Amal ini juga merupakan cerminan keimanan seseorang kepada Allah swt.

Diantara yang bisa menghambat bahkan tidak jarang menghentikan amal sholeh seseorang adalah rasa malas.

Malas adalah lemahnya kemauan, lebih mengutamakan istirahat daripada lelah dan tidak mengerjakan suatu amal sementara dia memiliki kesanggupan untuk melakukannya. Penyakit ini mudah sekali menghinggapi manusia karena memang tabiat manusia cenderung kepadanya kecuali mereka-mereka yang dirahmati Allah swt.

Untuk itu Rasulullah saw senantiasa berdoa : “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kerentaan. Aku berlindung kepada-mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhori)

Ada beberapa sebab yang memunculkan sifat malas dalam diri seseorang :

1. Cenderung kepada tarikan syahwat yang sangat kuat.

Kecenderungan seseorang kepada hawa nafsu dan syahwatnya mengakibatkan lemahnya kemauan dalam diri untuk melakukan berbagai amal sholeh. Tidak jarang seseorang lebih mengutamakan sholat di rumah ketimbang berjalan ke masjid, lebih memilih berkumpul dengan istri adan anak-anaknya ketimbang keluar untuk berda’wah dan berjihad ataupun lebih mengutamakan istirahat daripada bekerja dan beraktivitas.

Kalau kemalasan ini hanya terjadi sesekali saja mungkin masih bisa diterima karena memang jiwa manusia memiliki keterbatasan untuk bisa terus menerus berada dalam kondisi puncak baik didalam aktivias akherat maupun dunia, sebagaimana hadits Rasulullah saw : “Sesungguhnya setiap amal memiliki semangat kemudian penurunan maka barangsiapa penurunannya mengajaknya kepada perbuatan bid’ah maka ia telah sesat namun barang siapa yang penurunannya mengajaknya kepda sunnah (ku) maka ia telah mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad)

Yang menjadi musibah dalam diri seseorang adalah ketika kemalasan ini berlangsung secara kontinyu dan terus menerus baik secara sadar atau tidak.

2. Lalai

Firman Allah swt : “Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf : 205)

Jarangnya seseorang mengingat Allah swt disetiap waktu-waktunya menjadi sebab seseorang menjadi lalai. Lalai akan kewajibannya kepada Allah swt, Rasul dan Kitab-Nya, keluarga, masyarakat bahkan dirinya sendiri.

Kelalaian inilah yang menjadikan ia tidak antusias untuk memperbanyak amal dikarenakan tidak adanya dorongan kuat dalam dirinya.

3. Panjang Angan-Angan

Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu dibarengi dengan usaha sedangkan angan-angan tidak pernah dibarengi oleh usaha. Ada yang mengatakan,”Siapa yang pendek angan-angannya maka terang hatinya, karena jika dia merasa sudah berada diambang kematiannya pasti ia akan bersemangat dalam ketaatan kepada Allah, tidak banyak keinginannya dan ridho dengan yang sedikit.”

Seseorang yang tenggelam dalam angan-angannya lupa bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia adalah sesuai dengan taqdir dan ketetapan Allah swt. Diantara prinsip aqidah islam adalah usaha dan bertawakal kepada Allah swt bukan berpangku tangan, bermalas-malasan dan pasrah terhadap apapun yang akan terjadi pada dirinya.

Beberapa tips untuk mengusir rasa malas :

1. Memperbanyak dzikrullah.

Dzikrullah menjadikan hati seseorang merasa nyaman dan tentram dengan Allah swt. Inilah yang menjadi senjata ampuh untuk menghadapi berbagai tarikan hawa nafsu dan syahwat yang sering kali diprovokasi oleh setan dengan bisikan-bisikannya. Firman Allah swt : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ro’d : 28)

Kemalasan seseorang untuk beramal sholeh atau beribadah adalah buah dari bisikan-bisikan setan yang diikuti. Hal ini bisa terjadi pada saat ingin memulai suatu amal atau ketika amal itu sedang berlangsung.

Bisikan-bisikannya kepada seseorang disaat ingin memulai amal bisa dengan menghadirkan dalam dirinya hal-hal duniawi yang disukainya agar ia terpedaya dan tidak jadi menunaikan amal itu dan beralih kepada apa yang dibisikannya.

Kalaupun orang itu berhasil melalui ujian pertama itu dan tetap melakukan amal sholeh maka setan menggunakan jurus yang lain yaitu dengan membisik-bisikan dalam dirinya perasaan riya, ghurur, takabbur atau penyakit-penyakit hati lainnya.

2. Memilih lingkungan yang baik.

Tidak jarang seseorang yang pada awalnya malas menjadi bersemangat ketika menyaksikan orang-orang dikelilingnya begitu rajin. Sangat mungkin seorang anak yang tadinya malas membaca Al Qur’an kemudian menjadi bersemangat untuk membacanya setelah menyaksikan ayah atau kakaknya yang begitu rajin membacanya.

Tepatlah apa yang dikatakan Ibnu Kholdun bahwa manusia adalah anak lingkungannya, artinya orang-orang yang ada disekitarnyalah yang membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Untuk itu seorang mukmin haruslah memperhatikan lingkungannya, baik lingkungan rumah, kantor, bisnis bahkan lingkungan bermainnya.

Dia harus melakukan penseleksian terhadap orang-orang sekitarnya, siapa-siapa dari mereka yang akan menjadi kawan karibnya dan siapa-siapa yang akan menjadi kawan biasanya. Karena kawan karib biasanya bisa saling mewarnai berbeda halnya dengan kawan biasa. Sabda Rasulullah saw,”Seseorang itu tergantung dari (kualitas) agama kawan karibnya maka seseorang diantara kamu melihat siapa yang menjadi kawan karibnya.” (HR. Abu Daud)

3. Memperbanyak berdoa kepada Allah

Dalam hal ini Rasulullah saw mengajarkan kepada kita doanya,”Allahumma inni audzubika minal ajzi wal kasal wal jubni wal haromi wa audzubika min fitnatil mahya wal mamat wa audzubika min adzabil qobri, artinya; “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kerentaan. Aku berlindung kepada-mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubuق.” (HR. Bukhori)

Sesungguhnya hati manusia berada diantara jari jemari Allah swt, Dialah yang kuasa mengarahkannya sesuai dengan kehendak-Nya. Untuk itu agar hati ini terus diarahkan kepada kebaikan dan amal sholeh serta dihilangkan dari berbagai penyakit termasuk rasa malas maka mintalah kepada Allah melalui berdoa kepada-Nya, terutama doa diatas. Ucapkanlah doa itu di saat pagi hari tatkala ia hendak memulai aktivitasnya dan juga di saat petang hari tatkala ia mengakhiri aktivitasnya.

4. Menyadari kekeliruan dan mulailah melangkah.

Seseorang dikatakan baik ketika ia sudah menyadari kekeliruannya sebaliknya seseorang dikatakan buruk ketika ia sudah merasa bahwa dirinya baik. Kesadaran seseorang akan buruknya sifat malas adalah suatu modal berharga untuk ia bisa menjadi lebih bersemangat.

Tentunya kesadaran tersebut haruslah disupport dengan kemauan kuat untuk memperbaiki agar bisa berubah menjadi suatu amal.

Kesadaran akan kekeliruan adalah awal hidayah Allah swt kepadnya maka janganlah membuka kembali pintu-pintu setan untuk menguasainya dikarenakan kelengahan kita didalam menindaklanjutinya.

Untuk itu mulailah melangkah, seseorang bisa berjalan ribuan kilometer dikarenakan orang itu memulainya dengan satu langkah. Satu demi satu langkahnya diayunkan dengan keyakinan bahwa ia akan sampai pada titik akhir perjalanan yang diinginkannya.

Sesungguhnya perjalanan yang akan ditempuh masih sangat panjang untuk itu diperlukan kebersihan niat, kesabaran dan ketawakalan kepada Allah swt.

Wallahu A’lam

src: Era Muslim dot com

Komentar (3) »

Cita-Cita Yahudi : Menundukkan Tiga Agama Besar

ZIONIS Kristen Muslim
Satu hal yang jarang diketahui umum, gerakan paganis Yahudi yang juga disebut sebagai kaum Talmudian ini merupakan gerakan untuk menghancurkan semua agama langit. Taurat Musa mereka ganti dengan Talmud; Ajaran Nabi Isa a.s. dikotori dengan tangan Paulus, Yahudi dari Tarsus; dan ke dalam Islam mereka menyusupkan Abdullah bin Saba’, Yahudi dari Yaman yang mengaku-aku sebagai pembela keluarga Ali r.a. dan mengajarkan pengikutnya agar hanya mencintai Ali r.a. dan mengecam ketiga sahabat Nabi SAW lainnya seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., dan Ustman bin Affan r.a.

Mereka ini memiliki dendam kesumat terhadap Gereja yang telah menumpas para tetua mereka pada tahun 1307. Sebab itu mereka berupaya agar Gereja bisa ditundukkan dan menjadi pelayan kepentingan mereka. Salah satu bukti adalah surat balasan dari Rabi Yahudi di Konstantinopel kepada warga Yahudi yang tinggal di Arles, Perancis, yang menyatakan, “Jadilah kamu pemeluk Kristen, namun tetaplah pelihara Talmud di dalam hatimu. Agar kamu bisa menghancurkan mereka dari dalam…”

Konspirasi mereka tetap berjalan dengan penuh kerahasiaan. Satu persatu negeri-negeri besar jatuh dalam cengkeraman mereka. Dari daratan Eropa, mereka menjangkau Amerika, dan juga seluruh dunia. Sejarah dunia yang kita kenal sekarang merupakan hasil kerja mereka. Hanya saja, sejarah resmi tidak pernah mencatat bahwa semua ini merupakan hasil dari kerja keras mereka, karena industri penulisan dunia pun dimiliki oleh jaringan mereka.

src : EraMuslim dot com => Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order

Komentar (5) »

Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah Ra

Aisyah Menikah Masih Muda?Nikah

Benar bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha selagi masih muda. Dan kalau itu dianggap mengganggu, kita bisa bilang apa urusan anda meributkannya. Toh Aisyah bukan diperkosa, bukan juga dipaksa. Beliau dinikahi secara sah oleh Rasulullah SAW, meski saat itu terbilang masih belia.

Tetapi riwayat yang kuat menyebutkan bahwa meski sudah sah menjadi isteri Rasulullah SAW, namun belia belum lagi berkumpul satu rumah, kecuali setelah beberapa lama kemudian, yaitu saat berusia 9 tahun.

Kalau ukuran tubuh wanita Indonesia, jangankan 9 tahun, yang usianya 25 tahun pun terkadang tubuhnya kecil seperti anak kecil. Tetapi coba perhatikan anak wanita usia 9 tahun untuk ras lainnya, seperti orang arab atau eropa. boleh jadi tubuhnya sudah sangat besar dan secara biologis sudah mengalami haidh.

Jangan bandingkan ukuran tubuh wanita bangsa Indonesia yang umumnya memang irit dan mungil dengan tubuh wanita arab atau eropa. Karena itu kebeliaan Aisyah jangan diukur dari usianya. Untuk ukuran wanita arab, sama sekali tidak bisa dibilang sebuah ketidak-nomalan, justru beliau saat itu sudah besar dan berkemang secara biologis.

Selain itu kita juga harus tahu bahwa budaya tiap masyarakat dalam usia pernikahan bisa sangat berbeda. Salah seorang dosen kami yang berasal dari Yaman bercerita bahwa beliau sendiri menikah pertama kali di usia 10 tahun. Sementara isteri beliau saat itu berusia 8 tahun. Dan menurut beliau, usia yang menurut hitungan budaya zaman sekarang ini dianggap terlalu beliau, justru menurut budaya di negeri beliau merupakan sebuah hal yang biasa, wajar dan tidak menjadi masalah.

Sementara mungkin budaya di Mesir lain lagi. Di sana kebiasaan yang berlaku adalah ke balikannya. Para lelaki umumnya menikah di usia 40 tahun ke atas. Sehingga seorang Sayyid Qutub ketika wafat belum berstatus menikah, karena di sana memang demikian budayanya. Menikah hanya dilakukan pada saat seseorang sudah mapan dari segi finansial, pendidikan dan kemandirian lainnya. Dan hal itu terjadi setelah usianya di atas 40 tahun.

Di belahan muka bumi yang lain, ada budaya yang sama sekali tidak mengenal pernikahan. Sampai mati tidak pernah menikah dan berkeluarga. Tentunya masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang tidak Islami. Dan buktinya, meski tidak mau menikah seumur hidupnya, mereka toh tetap melakukan hubungan seksual dengan ribuan orang yang berbeda.

Asal suka sama suka, tidak pandang apakah dia isteri tetangga, pembantu rumah tangga, rekan kerja, atasan bawahan, satpam, sopir bus, pengantar pizza, bahkan pekerja seks profesional, pokoknya mereka tetap melakukan kontak seksual.

Dan parahnya, seks bebas itu sudah mereka jalankan sejak mereka masih usia sangat dini, yaitu sejak sekolah dasar. Di Amerika, Eropa dan negeri sekuler (negeri yang memisahkan urusan agama dengan urusan negara) lainnya, para peneliti mengeluarkan data yang mencengangkan dari angket di level murid-murid SD. Bahkan nyaris dalam prosentasi yang sangat besar anak-anak sejak usia SD sudah melakukan hubungan seksual layaknya suami isteri.

Yang lebih mencengangkan, pola itu kemudian menyebar ke negeri timur, seperti Jepang, Korea, China dan Indonesia. Para peneliti anak mengeluarkan hasil angket yang membuat bulu roma berdiri. Bahkan sebagian besar anak usia SD di Jakarta sudah terbiasa melakukan kegiatan seksual baik dari yang paling ringan sampai yang benar-benar hubungan suami isteri. Tidak terbilang hp mereka yang terkena razia dan ternyata berisi potongan klip atau jpg gambar porno.

Maka kalau orang-orang sekuler itu menghina nabi Muhammad SAW dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual kepada anak kecil, naudzubillahi min zalik, sebenarnya masyarakat sekuler yang menuduh itu justru sudah melakukannya secara sah, lewat penyimpangan seksual di level anak-anak.

Dr. Said Hawwa dalam kitabnya, Al-Islam, menyebutkan bagaimana para anak sekolah yang masih beliau di Jerman dan Perancis merasa malu kalau masih punya selaput dara yang utuh, belum dirobek oleh teman laki-lakinya yang sama-sama masih kecil. Siswi sekolah itu akan terkucilkan dari pergaulan lantaran dianggap tidak hidup di alam nyata.

Adalah jauh lebih bermoral Rasulullah SAW ketika menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha di usia dini, namun belia belum langsung berkumpul dengannya. Karena ikatan nikah itu adalah ikatan yang suci, bertanggung-jawab, bermoral dan berperadaban.

Sedangkan orang barat dengan segala seks bebasnya di tengah anak-anak ingusan justru tidak bermoral, biadab, dan laknat.

src: eramuslim dot com sesi ustadz menjawab

Komentar (2) »

Bedanya Gusdur dan Sayyid Qutub

Sayid Qutb

Durahman

Apa yang dialami oleh sosok semacam Gusdur dan teman-temannya ini sebenarnya dahulu nyaris juga terjadi pada Asy-Syahid Sayyid Qutub. Sebagai ilmuwan dan cendekiawan, Sayyid Qutub juga pernah mau hampir dicuci otaknya oleh Amerika.

Bahkan beliau sudah sempat sampai ke Amerika dan nyaris hampir saja mengalami brainwashing (cuci otak). Kalau lah tidak karena pertolongan Allah, maka apa saja bisa terjadi.

Saat itu Sayyid Qutub melihat betapa rakyat Amerika berpesta pora merayakan hari terbunuhnya seorang ‘teroris’ besar yang sangat dicari masyarakat dunia international. Ya, yang disebut teroris itu ternyata adalah Hasan Al-Banna.

La haula wala quwata illa billah, seorang yang sangat dihormati di tengah bangsa Arab itu telah difitnah sebagai teroris, sehingga tubuhnya terbujur kaku kehabisan darah ditembus peluru agen-agen yang bekerja untuk kekuatan asing. Tubuh yang amat perkasa itu kehabisan darah lantaran di rumah sakit tidak diberikan pertolongan apa-apa setelah tubuh itu diterjang peluru.

Sontak Sayyid Qutub tersadar bahwa musuh-musuh Allah itu memang serius memusuhi Islam. Segera beliau kembali ke Mesir dan menyatakan diri bergabung dengan tanzhim harakah Islamiyah terbesar itu. Kemudian beliau menjadi salah satu ideolognya yang sangat masyhur.

Dan sesuai dengan sunnah harakah, beliau akhirnya ditangkap beberapa kali oleh para penguasa Mesir yang tunduk pada kekutan asing, hingga akhirnya beliau menemui Allah SWT dengan jalan syahid fisabililah di tiang gantungan.

Meski bukan dicuci otak dengan kuliah ke Amerika, tapi Gusdur mengalami juga proses cuci otak itu. Hal itu wajar karena orang seperti dirinya termasuk kriteria yang memang sangat untuk dijadikan agen kekuatan asing untuk mengobok-obok umat Islam. Secara sadar atau pun secara tidak sadar.

Kami tidak tahu apakah seorang Gusdur hari ini sadar bahwa dirinya telah dimanfaatkan sedemikian rupa oleh kekuatan asing, ataukah dirinya terlalu lugu untuk menyadari hal itu. Hanya Allah SWT dan dirinya sendiri yang bisa menjawabnya.

Adalah Israel yang sangat berbahagia dikaruniai seorang Gusdur, karena segala keinginan dan kepentingan zionis itu bisa terlaksana dengan sempurna berkat sepak terjang cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini. Padahal seandainya almarhun almaghfurlah Mbah Kiayi Hasyim Asy’ari masih ada dan melihat sepak terjang sang cucu, sangat boleh jadi beliau akan marah besar.

Hal ini terbukti dari sekian banyak kiyai sepuh yang menyatakan mufaraqah (berlepas diri) terhadap kepemimpinan Gusdur di PBNU. Kita masih ingat bagaimana almarhum KH. As’ad Syamsul Arifin berlepas diri dari tingkah lakunya yang aneh bin ajaib.

Termasuk di jalan jajaran kiyai sepuh yang tidak lagi mau ikutan dengan langkah Gusdur yang dianggap keliru adalah KH. Ali Yafi’ie. Kalau tidak salah dulu dalam kasus SDSB.

Namun sekesal-kesalnya para kiayi sepuh itu kepada sosok Gusdur, rasanya belum ada yang berani menyatakan bahwa Gusdur itu kafir atau halal darahnya.

Sebab secara hukum Islam, syarat dan ketentuannya dianggap belum mencukupi untuk melakukan vonis yang demikian. Setidaknya, itulah yang sementara hari ini mereka katakan berdasarkan kitab-kitab kuning yang sering mereka kaji.

Mereka sekedar menyayangkan saja, kenapa cucu kiyai itu sampai sejauh itu kesasar di jalan yang gelap? Dosa apa yang telah dilakukannya, kok bisa-bisanya jadi antek asing yang sangat merugikan umat Islam?

Sebagian kiyai sepuh itu malah ada yang bilang, “Sudahlah kita doakan saja biar dapat hidayah, dia kan manusia juga.” Yang lain bilang, “Tapi kita kan wajib mengingatkannya, masa cuma didiamkan saja?” Yang satunya bilang, “Ah, nggak usah dibahas, nanti kalau matinya masuk neraka, kan dia juga yang nanggung akibatnya.” Dan yang di ujung nyeletuk, “Setidaknya kita harus sampaikan kepada khalayak agar hati-hati dengan langkah orang yang satu ini.”

Yah, memang seandainya Gusdur dapat hidayah seperti Sayyid Qutub dapat hidayah, mungkin ceritanya akan lain.

Siapa yang Allah beri hidayah, maka dia tidak akan sesat. Siapa yang disesatkan, maka dia tidak akan mendapat petunjuk.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

src: tanya jawab eramuslim dot com (“Halalkah Darah Gusdur?”)

Komentar (3) »