Arsip untuk Juni, 2008

Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah Ra

Aisyah Menikah Masih Muda?Nikah

Benar bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha selagi masih muda. Dan kalau itu dianggap mengganggu, kita bisa bilang apa urusan anda meributkannya. Toh Aisyah bukan diperkosa, bukan juga dipaksa. Beliau dinikahi secara sah oleh Rasulullah SAW, meski saat itu terbilang masih belia.

Tetapi riwayat yang kuat menyebutkan bahwa meski sudah sah menjadi isteri Rasulullah SAW, namun belia belum lagi berkumpul satu rumah, kecuali setelah beberapa lama kemudian, yaitu saat berusia 9 tahun.

Kalau ukuran tubuh wanita Indonesia, jangankan 9 tahun, yang usianya 25 tahun pun terkadang tubuhnya kecil seperti anak kecil. Tetapi coba perhatikan anak wanita usia 9 tahun untuk ras lainnya, seperti orang arab atau eropa. boleh jadi tubuhnya sudah sangat besar dan secara biologis sudah mengalami haidh.

Jangan bandingkan ukuran tubuh wanita bangsa Indonesia yang umumnya memang irit dan mungil dengan tubuh wanita arab atau eropa. Karena itu kebeliaan Aisyah jangan diukur dari usianya. Untuk ukuran wanita arab, sama sekali tidak bisa dibilang sebuah ketidak-nomalan, justru beliau saat itu sudah besar dan berkemang secara biologis.

Selain itu kita juga harus tahu bahwa budaya tiap masyarakat dalam usia pernikahan bisa sangat berbeda. Salah seorang dosen kami yang berasal dari Yaman bercerita bahwa beliau sendiri menikah pertama kali di usia 10 tahun. Sementara isteri beliau saat itu berusia 8 tahun. Dan menurut beliau, usia yang menurut hitungan budaya zaman sekarang ini dianggap terlalu beliau, justru menurut budaya di negeri beliau merupakan sebuah hal yang biasa, wajar dan tidak menjadi masalah.

Sementara mungkin budaya di Mesir lain lagi. Di sana kebiasaan yang berlaku adalah ke balikannya. Para lelaki umumnya menikah di usia 40 tahun ke atas. Sehingga seorang Sayyid Qutub ketika wafat belum berstatus menikah, karena di sana memang demikian budayanya. Menikah hanya dilakukan pada saat seseorang sudah mapan dari segi finansial, pendidikan dan kemandirian lainnya. Dan hal itu terjadi setelah usianya di atas 40 tahun.

Di belahan muka bumi yang lain, ada budaya yang sama sekali tidak mengenal pernikahan. Sampai mati tidak pernah menikah dan berkeluarga. Tentunya masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang tidak Islami. Dan buktinya, meski tidak mau menikah seumur hidupnya, mereka toh tetap melakukan hubungan seksual dengan ribuan orang yang berbeda.

Asal suka sama suka, tidak pandang apakah dia isteri tetangga, pembantu rumah tangga, rekan kerja, atasan bawahan, satpam, sopir bus, pengantar pizza, bahkan pekerja seks profesional, pokoknya mereka tetap melakukan kontak seksual.

Dan parahnya, seks bebas itu sudah mereka jalankan sejak mereka masih usia sangat dini, yaitu sejak sekolah dasar. Di Amerika, Eropa dan negeri sekuler (negeri yang memisahkan urusan agama dengan urusan negara) lainnya, para peneliti mengeluarkan data yang mencengangkan dari angket di level murid-murid SD. Bahkan nyaris dalam prosentasi yang sangat besar anak-anak sejak usia SD sudah melakukan hubungan seksual layaknya suami isteri.

Yang lebih mencengangkan, pola itu kemudian menyebar ke negeri timur, seperti Jepang, Korea, China dan Indonesia. Para peneliti anak mengeluarkan hasil angket yang membuat bulu roma berdiri. Bahkan sebagian besar anak usia SD di Jakarta sudah terbiasa melakukan kegiatan seksual baik dari yang paling ringan sampai yang benar-benar hubungan suami isteri. Tidak terbilang hp mereka yang terkena razia dan ternyata berisi potongan klip atau jpg gambar porno.

Maka kalau orang-orang sekuler itu menghina nabi Muhammad SAW dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual kepada anak kecil, naudzubillahi min zalik, sebenarnya masyarakat sekuler yang menuduh itu justru sudah melakukannya secara sah, lewat penyimpangan seksual di level anak-anak.

Dr. Said Hawwa dalam kitabnya, Al-Islam, menyebutkan bagaimana para anak sekolah yang masih beliau di Jerman dan Perancis merasa malu kalau masih punya selaput dara yang utuh, belum dirobek oleh teman laki-lakinya yang sama-sama masih kecil. Siswi sekolah itu akan terkucilkan dari pergaulan lantaran dianggap tidak hidup di alam nyata.

Adalah jauh lebih bermoral Rasulullah SAW ketika menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha di usia dini, namun belia belum langsung berkumpul dengannya. Karena ikatan nikah itu adalah ikatan yang suci, bertanggung-jawab, bermoral dan berperadaban.

Sedangkan orang barat dengan segala seks bebasnya di tengah anak-anak ingusan justru tidak bermoral, biadab, dan laknat.

src: eramuslim dot com sesi ustadz menjawab

Komentar (2) »

Bedanya Gusdur dan Sayyid Qutub

Sayid Qutb

Durahman

Apa yang dialami oleh sosok semacam Gusdur dan teman-temannya ini sebenarnya dahulu nyaris juga terjadi pada Asy-Syahid Sayyid Qutub. Sebagai ilmuwan dan cendekiawan, Sayyid Qutub juga pernah mau hampir dicuci otaknya oleh Amerika.

Bahkan beliau sudah sempat sampai ke Amerika dan nyaris hampir saja mengalami brainwashing (cuci otak). Kalau lah tidak karena pertolongan Allah, maka apa saja bisa terjadi.

Saat itu Sayyid Qutub melihat betapa rakyat Amerika berpesta pora merayakan hari terbunuhnya seorang ‘teroris’ besar yang sangat dicari masyarakat dunia international. Ya, yang disebut teroris itu ternyata adalah Hasan Al-Banna.

La haula wala quwata illa billah, seorang yang sangat dihormati di tengah bangsa Arab itu telah difitnah sebagai teroris, sehingga tubuhnya terbujur kaku kehabisan darah ditembus peluru agen-agen yang bekerja untuk kekuatan asing. Tubuh yang amat perkasa itu kehabisan darah lantaran di rumah sakit tidak diberikan pertolongan apa-apa setelah tubuh itu diterjang peluru.

Sontak Sayyid Qutub tersadar bahwa musuh-musuh Allah itu memang serius memusuhi Islam. Segera beliau kembali ke Mesir dan menyatakan diri bergabung dengan tanzhim harakah Islamiyah terbesar itu. Kemudian beliau menjadi salah satu ideolognya yang sangat masyhur.

Dan sesuai dengan sunnah harakah, beliau akhirnya ditangkap beberapa kali oleh para penguasa Mesir yang tunduk pada kekutan asing, hingga akhirnya beliau menemui Allah SWT dengan jalan syahid fisabililah di tiang gantungan.

Meski bukan dicuci otak dengan kuliah ke Amerika, tapi Gusdur mengalami juga proses cuci otak itu. Hal itu wajar karena orang seperti dirinya termasuk kriteria yang memang sangat untuk dijadikan agen kekuatan asing untuk mengobok-obok umat Islam. Secara sadar atau pun secara tidak sadar.

Kami tidak tahu apakah seorang Gusdur hari ini sadar bahwa dirinya telah dimanfaatkan sedemikian rupa oleh kekuatan asing, ataukah dirinya terlalu lugu untuk menyadari hal itu. Hanya Allah SWT dan dirinya sendiri yang bisa menjawabnya.

Adalah Israel yang sangat berbahagia dikaruniai seorang Gusdur, karena segala keinginan dan kepentingan zionis itu bisa terlaksana dengan sempurna berkat sepak terjang cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini. Padahal seandainya almarhun almaghfurlah Mbah Kiayi Hasyim Asy’ari masih ada dan melihat sepak terjang sang cucu, sangat boleh jadi beliau akan marah besar.

Hal ini terbukti dari sekian banyak kiyai sepuh yang menyatakan mufaraqah (berlepas diri) terhadap kepemimpinan Gusdur di PBNU. Kita masih ingat bagaimana almarhum KH. As’ad Syamsul Arifin berlepas diri dari tingkah lakunya yang aneh bin ajaib.

Termasuk di jalan jajaran kiyai sepuh yang tidak lagi mau ikutan dengan langkah Gusdur yang dianggap keliru adalah KH. Ali Yafi’ie. Kalau tidak salah dulu dalam kasus SDSB.

Namun sekesal-kesalnya para kiayi sepuh itu kepada sosok Gusdur, rasanya belum ada yang berani menyatakan bahwa Gusdur itu kafir atau halal darahnya.

Sebab secara hukum Islam, syarat dan ketentuannya dianggap belum mencukupi untuk melakukan vonis yang demikian. Setidaknya, itulah yang sementara hari ini mereka katakan berdasarkan kitab-kitab kuning yang sering mereka kaji.

Mereka sekedar menyayangkan saja, kenapa cucu kiyai itu sampai sejauh itu kesasar di jalan yang gelap? Dosa apa yang telah dilakukannya, kok bisa-bisanya jadi antek asing yang sangat merugikan umat Islam?

Sebagian kiyai sepuh itu malah ada yang bilang, “Sudahlah kita doakan saja biar dapat hidayah, dia kan manusia juga.” Yang lain bilang, “Tapi kita kan wajib mengingatkannya, masa cuma didiamkan saja?” Yang satunya bilang, “Ah, nggak usah dibahas, nanti kalau matinya masuk neraka, kan dia juga yang nanggung akibatnya.” Dan yang di ujung nyeletuk, “Setidaknya kita harus sampaikan kepada khalayak agar hati-hati dengan langkah orang yang satu ini.”

Yah, memang seandainya Gusdur dapat hidayah seperti Sayyid Qutub dapat hidayah, mungkin ceritanya akan lain.

Siapa yang Allah beri hidayah, maka dia tidak akan sesat. Siapa yang disesatkan, maka dia tidak akan mendapat petunjuk.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

src: tanya jawab eramuslim dot com (“Halalkah Darah Gusdur?”)

Komentar (3) »