Bedanya Gusdur dan Sayyid Qutub

Sayid Qutb

Durahman

Apa yang dialami oleh sosok semacam Gusdur dan teman-temannya ini sebenarnya dahulu nyaris juga terjadi pada Asy-Syahid Sayyid Qutub. Sebagai ilmuwan dan cendekiawan, Sayyid Qutub juga pernah mau hampir dicuci otaknya oleh Amerika.

Bahkan beliau sudah sempat sampai ke Amerika dan nyaris hampir saja mengalami brainwashing (cuci otak). Kalau lah tidak karena pertolongan Allah, maka apa saja bisa terjadi.

Saat itu Sayyid Qutub melihat betapa rakyat Amerika berpesta pora merayakan hari terbunuhnya seorang ‘teroris’ besar yang sangat dicari masyarakat dunia international. Ya, yang disebut teroris itu ternyata adalah Hasan Al-Banna.

La haula wala quwata illa billah, seorang yang sangat dihormati di tengah bangsa Arab itu telah difitnah sebagai teroris, sehingga tubuhnya terbujur kaku kehabisan darah ditembus peluru agen-agen yang bekerja untuk kekuatan asing. Tubuh yang amat perkasa itu kehabisan darah lantaran di rumah sakit tidak diberikan pertolongan apa-apa setelah tubuh itu diterjang peluru.

Sontak Sayyid Qutub tersadar bahwa musuh-musuh Allah itu memang serius memusuhi Islam. Segera beliau kembali ke Mesir dan menyatakan diri bergabung dengan tanzhim harakah Islamiyah terbesar itu. Kemudian beliau menjadi salah satu ideolognya yang sangat masyhur.

Dan sesuai dengan sunnah harakah, beliau akhirnya ditangkap beberapa kali oleh para penguasa Mesir yang tunduk pada kekutan asing, hingga akhirnya beliau menemui Allah SWT dengan jalan syahid fisabililah di tiang gantungan.

Meski bukan dicuci otak dengan kuliah ke Amerika, tapi Gusdur mengalami juga proses cuci otak itu. Hal itu wajar karena orang seperti dirinya termasuk kriteria yang memang sangat untuk dijadikan agen kekuatan asing untuk mengobok-obok umat Islam. Secara sadar atau pun secara tidak sadar.

Kami tidak tahu apakah seorang Gusdur hari ini sadar bahwa dirinya telah dimanfaatkan sedemikian rupa oleh kekuatan asing, ataukah dirinya terlalu lugu untuk menyadari hal itu. Hanya Allah SWT dan dirinya sendiri yang bisa menjawabnya.

Adalah Israel yang sangat berbahagia dikaruniai seorang Gusdur, karena segala keinginan dan kepentingan zionis itu bisa terlaksana dengan sempurna berkat sepak terjang cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini. Padahal seandainya almarhun almaghfurlah Mbah Kiayi Hasyim Asy’ari masih ada dan melihat sepak terjang sang cucu, sangat boleh jadi beliau akan marah besar.

Hal ini terbukti dari sekian banyak kiyai sepuh yang menyatakan mufaraqah (berlepas diri) terhadap kepemimpinan Gusdur di PBNU. Kita masih ingat bagaimana almarhum KH. As’ad Syamsul Arifin berlepas diri dari tingkah lakunya yang aneh bin ajaib.

Termasuk di jalan jajaran kiyai sepuh yang tidak lagi mau ikutan dengan langkah Gusdur yang dianggap keliru adalah KH. Ali Yafi’ie. Kalau tidak salah dulu dalam kasus SDSB.

Namun sekesal-kesalnya para kiayi sepuh itu kepada sosok Gusdur, rasanya belum ada yang berani menyatakan bahwa Gusdur itu kafir atau halal darahnya.

Sebab secara hukum Islam, syarat dan ketentuannya dianggap belum mencukupi untuk melakukan vonis yang demikian. Setidaknya, itulah yang sementara hari ini mereka katakan berdasarkan kitab-kitab kuning yang sering mereka kaji.

Mereka sekedar menyayangkan saja, kenapa cucu kiyai itu sampai sejauh itu kesasar di jalan yang gelap? Dosa apa yang telah dilakukannya, kok bisa-bisanya jadi antek asing yang sangat merugikan umat Islam?

Sebagian kiyai sepuh itu malah ada yang bilang, “Sudahlah kita doakan saja biar dapat hidayah, dia kan manusia juga.” Yang lain bilang, “Tapi kita kan wajib mengingatkannya, masa cuma didiamkan saja?” Yang satunya bilang, “Ah, nggak usah dibahas, nanti kalau matinya masuk neraka, kan dia juga yang nanggung akibatnya.” Dan yang di ujung nyeletuk, “Setidaknya kita harus sampaikan kepada khalayak agar hati-hati dengan langkah orang yang satu ini.”

Yah, memang seandainya Gusdur dapat hidayah seperti Sayyid Qutub dapat hidayah, mungkin ceritanya akan lain.

Siapa yang Allah beri hidayah, maka dia tidak akan sesat. Siapa yang disesatkan, maka dia tidak akan mendapat petunjuk.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

src: tanya jawab eramuslim dot com (“Halalkah Darah Gusdur?”)

3 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    fery berkata,

    Memang setiap idiologi mempunyai metode(thoriqoh) untuk melebarkan sayapnya,dan memang idiologi harus seperti itu.dan salah satu idiologi di dunia ini adalah kapitalis yang metodenya adalah dengan cara kolonialisme alias penjajahan.Dan penjajahan ini melalui berbagai cara yakni melalui politik,militer dan pemikiran.bagi negara yang di jajah idiologinya nggak sesuai dengan mereka mereka(kapitalis) menggunakan kekuatan militer,tetapi apabila masih bisa menerima idiologi mereka mereka menggunakan tekanan politik.dan merusak pemikiran mereka dengan cara salah satunya adalah dengan tukar menukar mahasiswa,pelajar antar negara.Sehingga mereka bisa mencuci otak mereka di negara itu mungkin di negri ini selain gis dur juga ada contoh lain di antaranya ada nurcholis majid yang dulu katanya termasuk kaum muslim yang radikal(kata kafir imperialis)setelah melancong ke amerika pemikiranya berubah total.untuk itu mari kita tegakkan institusi pelaksana syari’ah yakni khilafah agar umat muslim tidak terus menerus di tindas dan di rendahkan.

  2. 2

    Gurniman berkata,

    semoga kita tidak repot…………..

  3. 3

    aqim berkata,

    Mengklaim seorang figur dengan LABEL as-syahiid adalah sebuah kecerobohan dan bukti fanatisme buta serta tidak berhati-hati. Jika anugrah syahadah adalah diantara mutiara-mutiara yg diberikan tanpa sepengetahuan manusia , maka memeberikan label syahid kpd sosok seorang figur,bagaimanapunfigur itu mendekati setengah sempurna, adalah sebuah klaim mengaku mengetahui ilmu ghaib.Dan Sayyid Qutub, tanpa sikap apriori terhadap mutiara-mutiara yang ia berikan kepada islam, Ia teteplah seorang figur dimana yang berhak memberikan justifikasi terhadap kesyahidannya hanyalah dua barometer utama yaitu alqur’an dan khobar dari nabi.Terminologi “asy-syahid” adalah sebuah klaim buta bahwasanya figur itu sudah pasti mendapatkan anugrah syahadah, bukankah itu bentuk arogansi dan sikap apriori dengan manaruh al-qura’n dan kabar dari nabi dibelakang kita karena al-qur’an dan sunnah tidak pernah memberikan justifikasi bahwa seorang SAYYID QUTUB mendapatkan predikat syahiid secara pasti.Tidakkah lebih santun dan ilmiah jika kita mengganti lafadz ta’kiid (asy-syahiid) dengan lafadz do’a sebagaimana yang dipakai oleh para ulama’ misalnya lafadz “rahimahullah”.Karena kita semua tahu bahwa predikat syahiid adalah predikat emas yang hanya bisa diketahui nanti ketika AR-ROHMAN mengklasifikasikan hamba-hambanya berdasarkan amal mereka didunia diwaktu matahari tepat berada diatas kepala mereka dan sejarah juga menceritakan bahwasanya predikat almubasysyaruuna biljannah hanya diberikan nabi kepada beberapa orang sahabatnya setelah adanya pemberitahuan dari ALLAH tentang hak masuk sorga bagi beberapa orang sahabat tersebut.


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda